Jinn adalah nama jenis, bentuk tunggalnya adalah jiniy, yang artinya "yang tersembunyi", atau "yang tertutup", atau "yang tak terlihat". Hal itulah yang memungkinkan kita untuk mengkaitkannya dengan sifat yang umum "alam tersembunyi"' sekalipun akidah Islam memaksudkannya dengan makhluk-makhluk berakal, berkehendak, sadar dan punya kewajiban, berjasad halus, dan hidup bersama-sama kita di planet bumi ini.
Makna Jin dalam Bahasa Arab
Apabila para sarjana antropologi dan kebudayaan kuno menegaskan bahwa bahasa yang tercatat paling tua adalah Bahasa Sumeria, yang sejarahnya mengakar pada kira-kira 3500 tahun sebelum Masehi, yaitu masa yang dalam nisbatnya dengan sejarah umum manusia setara dengan lima detik, maka kita berpendapat bahwa Bahasa Arab adalah bahasa pertama, dan darinya muncul-lah bahasa-bahasa kuno lainnya, yang juga disebut sebagai Bahasa Aramia, yang merupakan cabang darinya. Sebab, telah ditemukan beberapa teks dalam bahasa Aramia yang mengacu pada abad ke-14 SM - suatu bahasa yangdalam skala besar, terdiri dari bentuk-bentuk huruf Arab sekarang ini.
Saya bertanya kepada Jin Muslim sahabat saya, tentang bahasa paling tua yang pernah dikenal manusia. Dia menjawab bahwa nenek moyangnya, yang mati disambar kilatan api Tuhan karena ulahnya yang mencoba-coba mencuri dengar suara langit, memberitahukan kepada ayahnya bahwa kakek-kakeknya yang berasal dari India, memberitakan kepadanya bahwa bahasa Arablah yang merupakan bahasa paling tua, sebagaimana yang disampaikan oleh kabar-kabar mutawatir di dunia Jin.
dari segi bahasa, Al-Jinn adalah lawan kata Al-Ins (manusia). Disebut-sebut bahwa jika dikatakan, ânastu asy-syai'a berarti "saya melihat sesuatu". Allah SWT berfirman, Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang telah ditentukan, dan ia berangkat dengan keluarganya, lalu dilihatnya api di lereng gunung. Dia berkata kepada keluarganya, "Tunggulah disini, sesungguhnya aku melihat api (ânastu nâran)" (QS. Al-Qashash:29).
Kosa kata dalam bahasa Arab yang terdiri huruf Jim dan Nun, dengan berbagai bentukkannya memiliki pengertian "benda" atau "makhluk" yang tersembunyi.
Al-janîn (janin) disebut demikian karena ketersembunyiannya dalam perut ibunya, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah yang berbunyi, ... dan ketika kamu masih tersembunyi (ajinnat) dalam perut ibumu (QS. An-Najm: 32).
Junnat Al-Layl, artinya ketersembunyian oleh kegelapan malam dan tertutup tabir hitamnya, seperti firman Allah yang berbunyi, Ketika malam menjadi gelap (janna), maka dia melihat sebuah bintang (QS. Al-An'am: 76).
Junna ar-rajulu junûnan, wa ajannahullâhu, fahuwa majnûn, artinya "jika seseorang telah kehilangan akalnya, dan 'tertutup'-lah kesadarannya, maka dengan itu hilanglah kewajiban-kewajiban darinya akibat tidak adanya akal". Tentang pengertian yang seperti ini Allah SWT berfirman, ... atau, pada dirinya ada penyakit gila? (QS. Saba': 8).
Termasuk katagori ini adalah ucapan Nabi SAW yang berbunyi, "Puasa itu adalah junnah (perisai)," dan penjelasan 'Utsman Ibn Abi Al'-Ash terhadap kata junnah yang berbunyi, "Puasa itu adalah junnah (perisai) seperti junnah kalian dalam peperangan." Junnah, dengan demikian, berarti pelindung atau penutup. Penulis kitab An-Nihayah mengatakan bahwa makna puasa sebagai junnah adalah karea ia melindungi pelakunya dari serangan syahwat. Al-Quthubi mengatakan : "junnah berarti pembatas, yakni dalam kaitan dengan ketentuan syariat. Yaitu, setiap orang yang berpuasa mesti melindungi dirinya dari segala sesuatu yang bisa merusak puasanya dan menghilangkan pahalanya. Juga benar bila junnah diartikan sebagai penutup karena pahala dan peningkatan kebaikan yang dihasilkannya. "Ibn 'Arabi mengatakan, "Sesungguhnya puasa itu adalah junnah (pelindung) dari api neraka, karena puasa bisa mencegah syahwat, sedangkan neraka diperingan jalan ke arahnya dengan syahwat. Alhasil, jika seseorang yang berpuasa menahan diri dari memperturutkan syahwat di dunia, maka puasa tersebut bisa menjadi penutup dirinya dari siksa neraka di akhirat.
Orang Arab menyebut perisai yang dengannya seorang prajurut melindungi diri dalam peperangan dengan al-mijann. Sebab, prajurit tersebut menutup dirinya dengan perisai itu dari lemparan, tikaman dan pukulan musuh. Segala sesuatu yang anda gunakan sebagai penutup diri dari segala keburukan, adalah junnah.
Surga yang dijanjikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa disebut junnah karena banyaknya pohon yang terdapat disana, yang saling menutupi satu sama lain.
Hati kita juga disebut al-janân karena ia merupakan sesuatu yang tertutup oleh dada. Ada pula yang mengatakan bahwa ia disebut demikian, karena pikiran dan lintasan hati yang dimilikinya tertutup dan tidak terlihat. Dengan demikian, segala yang tidak tampak oleh pandangan mata, atau yang tersembunyi, disebut dengan janân. Itu pula sebabnya, maka kuburan juga disebut junan, karena ia menutupi orang yang dikubur di dalamnya.
Kata jiniy yang diucapkan orang-orang Arab dahulu dan juga dipergunakan oleh Alquran, adalah makhluk berakal yang tersembunyi (tidak terlihat mata), yang hidup bersama-sama dengan kita. Bahasa-bahasa Eropa mengadopsinya dari bahasa Arab, lalu melafalkannya dengan genie (Inggris). Sekalipun kamus-kamus mereka memaksudkannya dengan "roh setan", namun dalam film-film modern istilah ini mereka maksudkan dengan makhluk berakal, khususnya, yang berbuat baik atau membantu manusia dalam melakukan kebaikan.
Makna Jin dalam Bahasa Arab
Apabila para sarjana antropologi dan kebudayaan kuno menegaskan bahwa bahasa yang tercatat paling tua adalah Bahasa Sumeria, yang sejarahnya mengakar pada kira-kira 3500 tahun sebelum Masehi, yaitu masa yang dalam nisbatnya dengan sejarah umum manusia setara dengan lima detik, maka kita berpendapat bahwa Bahasa Arab adalah bahasa pertama, dan darinya muncul-lah bahasa-bahasa kuno lainnya, yang juga disebut sebagai Bahasa Aramia, yang merupakan cabang darinya. Sebab, telah ditemukan beberapa teks dalam bahasa Aramia yang mengacu pada abad ke-14 SM - suatu bahasa yangdalam skala besar, terdiri dari bentuk-bentuk huruf Arab sekarang ini.
Saya bertanya kepada Jin Muslim sahabat saya, tentang bahasa paling tua yang pernah dikenal manusia. Dia menjawab bahwa nenek moyangnya, yang mati disambar kilatan api Tuhan karena ulahnya yang mencoba-coba mencuri dengar suara langit, memberitahukan kepada ayahnya bahwa kakek-kakeknya yang berasal dari India, memberitakan kepadanya bahwa bahasa Arablah yang merupakan bahasa paling tua, sebagaimana yang disampaikan oleh kabar-kabar mutawatir di dunia Jin.
dari segi bahasa, Al-Jinn adalah lawan kata Al-Ins (manusia). Disebut-sebut bahwa jika dikatakan, ânastu asy-syai'a berarti "saya melihat sesuatu". Allah SWT berfirman, Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang telah ditentukan, dan ia berangkat dengan keluarganya, lalu dilihatnya api di lereng gunung. Dia berkata kepada keluarganya, "Tunggulah disini, sesungguhnya aku melihat api (ânastu nâran)" (QS. Al-Qashash:29).
Kosa kata dalam bahasa Arab yang terdiri huruf Jim dan Nun, dengan berbagai bentukkannya memiliki pengertian "benda" atau "makhluk" yang tersembunyi.
Al-janîn (janin) disebut demikian karena ketersembunyiannya dalam perut ibunya, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah yang berbunyi, ... dan ketika kamu masih tersembunyi (ajinnat) dalam perut ibumu (QS. An-Najm: 32).
Junnat Al-Layl, artinya ketersembunyian oleh kegelapan malam dan tertutup tabir hitamnya, seperti firman Allah yang berbunyi, Ketika malam menjadi gelap (janna), maka dia melihat sebuah bintang (QS. Al-An'am: 76).
Junna ar-rajulu junûnan, wa ajannahullâhu, fahuwa majnûn, artinya "jika seseorang telah kehilangan akalnya, dan 'tertutup'-lah kesadarannya, maka dengan itu hilanglah kewajiban-kewajiban darinya akibat tidak adanya akal". Tentang pengertian yang seperti ini Allah SWT berfirman, ... atau, pada dirinya ada penyakit gila? (QS. Saba': 8).
Termasuk katagori ini adalah ucapan Nabi SAW yang berbunyi, "Puasa itu adalah junnah (perisai)," dan penjelasan 'Utsman Ibn Abi Al'-Ash terhadap kata junnah yang berbunyi, "Puasa itu adalah junnah (perisai) seperti junnah kalian dalam peperangan." Junnah, dengan demikian, berarti pelindung atau penutup. Penulis kitab An-Nihayah mengatakan bahwa makna puasa sebagai junnah adalah karea ia melindungi pelakunya dari serangan syahwat. Al-Quthubi mengatakan : "junnah berarti pembatas, yakni dalam kaitan dengan ketentuan syariat. Yaitu, setiap orang yang berpuasa mesti melindungi dirinya dari segala sesuatu yang bisa merusak puasanya dan menghilangkan pahalanya. Juga benar bila junnah diartikan sebagai penutup karena pahala dan peningkatan kebaikan yang dihasilkannya. "Ibn 'Arabi mengatakan, "Sesungguhnya puasa itu adalah junnah (pelindung) dari api neraka, karena puasa bisa mencegah syahwat, sedangkan neraka diperingan jalan ke arahnya dengan syahwat. Alhasil, jika seseorang yang berpuasa menahan diri dari memperturutkan syahwat di dunia, maka puasa tersebut bisa menjadi penutup dirinya dari siksa neraka di akhirat.
Orang Arab menyebut perisai yang dengannya seorang prajurut melindungi diri dalam peperangan dengan al-mijann. Sebab, prajurit tersebut menutup dirinya dengan perisai itu dari lemparan, tikaman dan pukulan musuh. Segala sesuatu yang anda gunakan sebagai penutup diri dari segala keburukan, adalah junnah.
Surga yang dijanjikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa disebut junnah karena banyaknya pohon yang terdapat disana, yang saling menutupi satu sama lain.
Hati kita juga disebut al-janân karena ia merupakan sesuatu yang tertutup oleh dada. Ada pula yang mengatakan bahwa ia disebut demikian, karena pikiran dan lintasan hati yang dimilikinya tertutup dan tidak terlihat. Dengan demikian, segala yang tidak tampak oleh pandangan mata, atau yang tersembunyi, disebut dengan janân. Itu pula sebabnya, maka kuburan juga disebut junan, karena ia menutupi orang yang dikubur di dalamnya.
Kata jiniy yang diucapkan orang-orang Arab dahulu dan juga dipergunakan oleh Alquran, adalah makhluk berakal yang tersembunyi (tidak terlihat mata), yang hidup bersama-sama dengan kita. Bahasa-bahasa Eropa mengadopsinya dari bahasa Arab, lalu melafalkannya dengan genie (Inggris). Sekalipun kamus-kamus mereka memaksudkannya dengan "roh setan", namun dalam film-film modern istilah ini mereka maksudkan dengan makhluk berakal, khususnya, yang berbuat baik atau membantu manusia dalam melakukan kebaikan.
03 April 2008
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
MUKADIMAH
MUKADIMAH
Tunduk kepada khayalan dan mengikatkan diri semata-mata pada kecenderungan akal, plus ketidaktahuan terhadap sesuatu yang tidak kita ketahui, adalah jalan menuju kesesatan, yang kadang-kadang seluruhnya, atau salah satu diantaranya, menyatu dalam diri seseorang. Yang demikian ini, cukup sudah sebagai jaminan bagi terjadinya kekeliruan persepsi, rusaknya akidah, dan terjadinya dekadensi.
Itu sebabnya, maka diturunkanlah akidah Islam yang komprehensif, memenuhi tuntutan emosi dan rasio, mengajarkan kepada manusia apa yang tidak mereka ketahui sebelumnya, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kebodohan, lalu menyinari jalan yang dilaluinya. Karena itu, barang siapa mengikuti apa yang diajarkannya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, kemudian beriman kepada segala sesuatu yang disampaikan oleh Al-Quran, berarti dia telah memperoleh petunjuk, dilindungi dan dipenuhi segala kebutuhannya. Dan barang siapa menyimpang darinya, berarti dia telah disesatkan setan : Barang siapa tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidaklah dia mempunyai cahaya (petunjuk) sedikitpun (QS. An-Nur: 40).
Sepanjang jin merupakan makhluk yang bersama-sama dengan kita menghuni planet bumi ini, atau dengan ungkapan yang lebih tegas "Kami (Allah) telah menempatkan mereka di bumi," dan dia lebih dulu ada dibanding manusia, lalu dalam banyak haldia juga bergaul dengan manusia, memiliki keinginan dan kemampuan memilih antara baik dan buruk, untuk kemudian melaksanakan salah satu diantara keduanya, dan sepanjang jin juga merupakan makhluk yang dikenai kewajiban beribadah oleh syariat, dan manusia - baik yang Mukmin maupun non Mukmin - mengetahui adanya makhluk ini, maka wahyu ternyata membatasi jalan kita untuk mengetahui alam gaib ini dari pandangan kita, sekalipun kadang-kadang kita bisa merasakan kehadirannya. Sementara itu, Sunnah Nabi pun telah menjelaskan kepada kita secara gamblang tentang hal-hal yang berkaitan dengan alam gaib tersebut, sehingga kita tidak tersesat dari jalan yang benar.
Dan jika orang-orang non-Muslim menisbatkan kepada jin berbagai kemampuan yang sebenarnya tidak mereka miliki, seperti pengetahuan tentang yang gaib, maka yang demikian itu disebabkan karena kebodohan mereka. Akan tetapi bila hal seperti ituterjadi pada sementara kaum Muslim, maka ia merupakan sejenis syirik dan bukan karena kebodohan mereka. Sebab, bertanya adalah kunci pengetahuan, dan Al-Quran yang dibaca dan didengar pun telah menjelaskan bahwa tidak ada yang dapat mengetahui tang gaib kecuali Allah : Ketahuilah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan), melainkan prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga (QS. Yunus: 66).
***
Sudah sejak lama, dan selama beberapa tahun dalam usia saya, alam jin sangat menarik saya, karena adanya beberapa peristiwa yang disitu beberapa jin terlibat.
Karena saya seorang Muslim, maka saya pun percaya pada adanya alam jin, berikut hal-hal yang berkaitan dengan mereka sebagaimana yang difirmankan Allah dan diberitakan oleh Nabi SAW.
Hanya tinggal satu masalah yang saya percayai dalam keadaan sangat goyah, atau dengan masih adanya sesuatu yang mengganjal dalam diri saya. Yakni masalah masukknya jin ke dalam diri manusia. Hal itu sebenarnya tidak saya pungkiri. Sebab, Rasulullah yang ma'shum telah memberitakknya kepada kita, dan sesudah beliau hal itu disampaikan pula oleh para imam yang terpercaya, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ibn Taimiyyah, Ibn Al-Qayyim, dan lain-lain. Akan tetapi karena ketidakmampuan saya untuk menangkap persoalan ini dan juga karena kedangkalan akal saya, sekalipun saya tetap mengimaninya, maka yang bisa saya lakukan hanyalah memohon ampunan kepada Allah atas kekurangan dan keterbatasan saya, dan saya berlindung kepada-Nya dari godaan setan dan kehadirannya pada diri saya.
Sejalan dengan profesi saya sebagai seorang wartawan di surat kabar Al-Akhbar sebelum ini, dan dengan keterlibatan saya di bidang dakwah, suatu hari - yang ketika itu saya menjabat sebagai Pimpinan Masjid Al-Malik di Hada'iq Al-Qubbah, dan yang menjadi imam dan pengajarnya adalah Syaikh Abdul-Hamid Kisyik, yaitu salah seorang diantara guru-guru saya yang sangat saya hormati - terjadilah suatu peristiwa, dimana secara tiba-tiba datang menemui kami dua orang, yaitu gadis jin yang masuk ke dalam jasad gadis manusia. Kedua-duanya, jin dan gadis manusia yang disurupinya, sama-sama Muslimah. Penyusupan ini terjadi di depan mata saya, dalam sosok yang tidak saya ragukan sama sekali, adn hendaknya orang-orang yang beriman memperacyai apa yang saya lihat itu. Gadis jin itu tersebut dapat menjelma dalam berbagai bentuk, yakni memperlihatkan dirinya bukan dalam bentuk aslinya. Dia pandai berbahasa Arab, dan namanya Georgina Abdurrahman.
Sesudah itu, dalam waktu yang tidak lama, datang pula kepada kamiseorang gadis berusia sekitar tujuh belas tahun disertai kedua orang tuanya. Begitu pintu ditututp, tiba-tiba gadis itu tertawa terbahak-bahak, lalu menyambar-nyambar. Kedua orang tuanya, yang pada saat itu berada dalam keadaan yang sangat tertekan, menceritakan bagaimana gadis tersebut kesurupan jin wanita yang kafir, bahkan ateis. Begitu kami menyarankan untuk membaca ayat kursi, tiba-tiba gadis itu bergerak sangat cepat kesana kemari, dalam kekuatan yang tidak wajar. Dia memukul teralis yang terbuat dari besi dengan keras. Kami segera membaca ayat kursi. Tiba-tiba setan perempuan yang menyelusup dalam tubuh gadis itu, mengucapkan sumpah serapah adn kata-kata kotor yang tidak pantas dikemukakan disini. Kami terus membaca ayat kursi, sampai akhirnya gadis itu ambruk ke tanah seperti orang pingsan. Kami mengangkatnya dan memindahkan ke dipan. Pada mulanya hal itu sangat sulit kami lakukan, karena tubuhnya mengejang-ngejang dan sulit digerakkan. Tetapi berkat pertolongan Allah, akhirnya gadis itu sadar, kami membaringkannya di dipan, dengan tidak lupa menyelimuti keda kakinya. Sesudah dia betul-betul sadar, kami menasihatinya agar selalu melaksanakan ajaran-ajaran Islam, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Rasulullah SAW.
Sudah sejak lama, dan selama beberapa tahun dalam usia saya, alam jin sangat menarik saya, karena adanya beberapa peristiwa yang disitu beberapa jin terlibat.
Karena saya seorang Muslim, maka saya pun percaya pada adanya alam jin, berikut hal-hal yang berkaitan dengan mereka sebagaimana yang difirmankan Allah dan diberitakan oleh Nabi SAW.
Hanya tinggal satu masalah yang saya percayai dalam keadaan sangat goyah, atau dengan masih adanya sesuatu yang mengganjal dalam diri saya. Yakni masalah masukknya jin ke dalam diri manusia. Hal itu sebenarnya tidak saya pungkiri. Sebab, Rasulullah yang ma'shum telah memberitakknya kepada kita, dan sesudah beliau hal itu disampaikan pula oleh para imam yang terpercaya, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ibn Taimiyyah, Ibn Al-Qayyim, dan lain-lain. Akan tetapi karena ketidakmampuan saya untuk menangkap persoalan ini dan juga karena kedangkalan akal saya, sekalipun saya tetap mengimaninya, maka yang bisa saya lakukan hanyalah memohon ampunan kepada Allah atas kekurangan dan keterbatasan saya, dan saya berlindung kepada-Nya dari godaan setan dan kehadirannya pada diri saya.
Sejalan dengan profesi saya sebagai seorang wartawan di surat kabar Al-Akhbar sebelum ini, dan dengan keterlibatan saya di bidang dakwah, suatu hari - yang ketika itu saya menjabat sebagai Pimpinan Masjid Al-Malik di Hada'iq Al-Qubbah, dan yang menjadi imam dan pengajarnya adalah Syaikh Abdul-Hamid Kisyik, yaitu salah seorang diantara guru-guru saya yang sangat saya hormati - terjadilah suatu peristiwa, dimana secara tiba-tiba datang menemui kami dua orang, yaitu gadis jin yang masuk ke dalam jasad gadis manusia. Kedua-duanya, jin dan gadis manusia yang disurupinya, sama-sama Muslimah. Penyusupan ini terjadi di depan mata saya, dalam sosok yang tidak saya ragukan sama sekali, adn hendaknya orang-orang yang beriman memperacyai apa yang saya lihat itu. Gadis jin itu tersebut dapat menjelma dalam berbagai bentuk, yakni memperlihatkan dirinya bukan dalam bentuk aslinya. Dia pandai berbahasa Arab, dan namanya Georgina Abdurrahman.
Sesudah itu, dalam waktu yang tidak lama, datang pula kepada kamiseorang gadis berusia sekitar tujuh belas tahun disertai kedua orang tuanya. Begitu pintu ditututp, tiba-tiba gadis itu tertawa terbahak-bahak, lalu menyambar-nyambar. Kedua orang tuanya, yang pada saat itu berada dalam keadaan yang sangat tertekan, menceritakan bagaimana gadis tersebut kesurupan jin wanita yang kafir, bahkan ateis. Begitu kami menyarankan untuk membaca ayat kursi, tiba-tiba gadis itu bergerak sangat cepat kesana kemari, dalam kekuatan yang tidak wajar. Dia memukul teralis yang terbuat dari besi dengan keras. Kami segera membaca ayat kursi. Tiba-tiba setan perempuan yang menyelusup dalam tubuh gadis itu, mengucapkan sumpah serapah adn kata-kata kotor yang tidak pantas dikemukakan disini. Kami terus membaca ayat kursi, sampai akhirnya gadis itu ambruk ke tanah seperti orang pingsan. Kami mengangkatnya dan memindahkan ke dipan. Pada mulanya hal itu sangat sulit kami lakukan, karena tubuhnya mengejang-ngejang dan sulit digerakkan. Tetapi berkat pertolongan Allah, akhirnya gadis itu sadar, kami membaringkannya di dipan, dengan tidak lupa menyelimuti keda kakinya. Sesudah dia betul-betul sadar, kami menasihatinya agar selalu melaksanakan ajaran-ajaran Islam, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Rasulullah SAW.
Sejak saat itu, pengalaman saya tentang dunia yang ganjil-ganjil terus bertambah, sampai tingkat yang agaknya tidak mungkin bisa dibayangkan oleh pembaca yang budiman. Akan tetapi saya membatasinya pada pengetahuan semata-mata. Sebab bersahabat dengan sesuatu yang tidak sejenis dengan anda, sama sekali tidak akan memberikan kebaikan apapun, kecuali bersahabat dengan malaikat yang anda muliakan dengan amal saleh anda dan selalu berzikir kepada Allah.
Sesudah saya ber-istikharah kepada Allah SWT untuk menulis buku tentang alam jin, maka Allah memberikan kehendak-Nya sehingga terjadilah hubungan saya dengan jin Muslim. Sebelumnya dia adalah kafir, kemudian Alah memuliakannya dengan Islam - melalui pertemuannya dengan saya yang terjadi berkali-kali dan dalam waktu yang cukup lama. Saya mohon maaf. Saya mohon maaf kepada pembaca bila di sini saya tidak memaparkan rahasia dan cara pertemuan kami. Sebab, hal itu merupakan aspek yang tidak memberikan manfaat kepada pembaca. Pada sisi lain, saya maksudkan agar saya tiadk berbuat salah kepada orang yang saya cintai. Pada sisi yang ketiga, itu disebabkan karena moral seorang Muslim haruslah melindungi rahasia pihak lain, dan menganggapnya sebagai amanah, sepanjang yang bersangkutan memintanya demikian. Jin yang saya maksudkan disini, berasal dari keluarga Konjur, dan memilih nama Musthafa sesudah dia masuk Islam. Seluruh persoalannya sangat ganjil. Karena itu, bersangka baik sajalah, dan jangan bertanya mengapa begitu.
Dalam berbagai pertemuan dan dialog yang terjadi antara saya dan kawan saya yang datang dari alam gaib tersebut, saya mengajukan ratusan pertanyaan. Saya mengajaknya berbincang-bincang tentang berbagai masalah, bahkan dia menunjukkan di depan mata saya berbagai keajaiban yang di khususkan Allah bagi mereka dengan ilmunya. Sesudah dia yakin betul akan persahabatan kami, dia mengungkapkan kepada saya banyak sekali hal yang selama ini diyakini secara keliru oleh manusia; termasuk hal-hal lain yang ingin sekali saya gali darinya, namun dia tidak bersedia mengungkapkannya. Kendati demikian, saya telah terlibat dengannya dalam berbagai persoalan yang mungkin tidak terlintas dalam pikiran pembaca yang budiman, yang saya ketahui melalui hubungan kami.
Hasilnya, terbitlah buku ini. Didalamnya termuat pengakuan-pengakuan dari jin yang sudah masuk Islam, yang saya yakin merupakan buku satu-satunya dalam masalah ini. dan sama sekali tidak bercorak taklid. Ia memuat, dengan sebenar-benarnya, tambahan-tambahan yang sesekali terlihat mengejutkan dan membetulkan konsep-konsep yang selama ini keliru, dan membantah anggapan-anggapanyang tendensius. Saya memohon kepada Allah agar buku ini bermanfaat bagi setiap Muslim, dan menjadi jalan hidayah bagi mereka yang sesat dan dimurkai Allah. Akhirnya, saya berharap semoga buku ini memiliki bobot dalam timbangan amal saat ia kelak dihadapkan kepaad 'Allah 'Azza wa Jala'. Kepada-Nya saya bertawakal, dan kepada-Nya pula saya mengembalikan persoalan.
Muhammad 'Isa Dawud
TENTANG PENULIS
MUHAMMAD 'ISA DAWUD, lahir di bagian timur Ismai'iliyah, tahun 1957. Dibesarkan dan menempuh pendidikan di Kairo. Meraih gelat Lc. di bidang sastra dari Fakultas Bahasa-bahasa dan studi Timur, Cairo University. Dia memulai karir profesionalnya di surat kabar Al-Akhbar dan Akhbar Al-Yawm, sebagai redaktur dan editor, di samping terjun pula sebagai da'i.
Bekerja di surat kabar An-Nadwah Saudi Arabia, dan karirnya terus meningkat, sampai akhirnya dipercaya sebagai Direktur Umum surat kabar harian di Saudi, sekaligus sebagai Wakil Pimpinan Redaksi untuk rubrik Pemikiran dan Kebudayaan Islam, selain mengpalai bagian referensi dan koreksi. Disamping itu, dia masih pula menjabat sebagai penasihat bidang informasi khusus untuk Ketua Pusat Informasi di Makkah Al-Mukarramah.
Muhammad 'Isa Dawud menulis ratusan makalah dan berbagai kajian dalam bidang agama, sastra, bahasa, sosial dan politik, yang dimuat dalam berbagai surat kabar dan majalah di Saudia Arabia dan Mesir.
'Isa Dawud adalah orang yang yakin betul bahwa sesuatu yang bersumber dari kalbu pasti akan sampai di kalbu pula. Sedangkan yang hanya berasal dari mulut, pasti hanya masuk telinga kiri dan keluar dari telinga kanan.
TAMU KITA DALAM BUKU INI
Jin Muslim, berasal dari Bombay, India. Sebelumnya dia adalah jin kafir. Kemudian Allah memuliakannya dengan Islam dan memberinya petunjukkepada keimanan. Dia selalu menekankan perbedaan besar antara Mukmin dan muslim Setiap Mukmin, pasti Muslim. Tapi tiidak setiap muslim pasti Mukmin.
Jin Muslim ini berusia 180 tahun. Masuk Islam nya Jin ini merupakan suatu kemenangan. Sebab, bersama-sama dia telah masuk Islam pula sepuluh ribu jin, yang merupakan pengawal-pengawal dan pendampingnya. Jin kita ini adalah Pemimpin Besar, punya pengaruh dan berwibawa. Kita memohon kepada Allah SWT, semoga jin-jin yang lainjuga mendapat petunjuk melaui dia, dan semoga pula Allah meneguhkan keimanan dan ke-Islamnya.Pendahuluan
Didalam sebuah buku yang berjudul Hiwar Shahafiy Ma’a Jinni Muslim yang
ditulis oleh ahli spiritual berkebangsaan Saudi Arabia Muhammad Isa Daud.
Dengan perantara tubuh manusia beliau telah berhasil melakukan percakapan
dengan dengan Jin yang beragama islam, dan mengabadikan dalam sebuah
buku.
Dalam percakapan tersebut beliau mencoba mengorek-ngorek keterangan
darinya berupa misteri-misteri besar dikalangan manusia yang salah satunya
adalah tentang kebohongan yang sudah berhasil ditanamkan oleh bangsa
Syetan pada kalbu umat manusia bahwa roh orang yang meninggal terkadang
bergantayangan di dunia (menentang faham ‘hari pembalasan kubur’).
Yang lainnya, yang akan dibahas disini adalah menguak misteri apakah /
siapakah sebenarnya UFO (Unidentified Flying Object) yang dianggap makhluk
luar angkasa mendatangi bumi. Sedangkan sampai sekarangpun belum ada
teori pasti dari para ahli bahwa memang terdapat planet di jagad raya ini yang
dihuni oleh makhluk lain selain manusia.
Hal inipun telah menjadi salah satu project khusus FBI, CIA maupun NASA yang
hingga kini hasilnya masih berupa asumsi dan teori-teori sementara saja tentang
siapa sebenarnya makhluk UFO itu.
Juga akan diurai keterangan darinya tentang apakah sebenarnya misteri yang
tersimpan di kawasan Segitiga Bermuda yang telah menghilangkan beberapa
kapal maupun pesawat. Hingga kini kawasan tersebut menjadi momok
dikalangan manusia untuk melewatinya.
Sekelumit Tentang Jin Muslim Tersebut
Jin muslim yang berdialog dengan penulis tersebut berasal dari Bombay, India.
Sebelumnya dia adalah pemeluk agama lain.
Berumur 180 tahun menurut pengakuannya. Menurut kabarnya setelah dia
masuk Islam, diikuti pula oleh sekitar sepuluh ribu Jin, yang merupakan
pengawal-pengawal dan pendampingnya. Jin tersebut adalah pemimpin besar,
punya pengaruh dan wibawa dikalangannya, di Bombay.
Dengan usaha yang menghabiskan tenaga, waktu dan biaya yang tidak sedikit,
penulis akhirnya berhasil mengundangnya melalui tubuh seorang laki-laki untuk
akhirnya melakukan percakapan dengannya yang berhasil direkam dan
diabadikan dalam sebuah buku.
Masih Adakah Iblis Pada Zaman Ini? (Sebagian kutipan terjemah dari buku
tersebut)
Kita semua mengetahui siapakah makhluk yang menyebabkan kakeng moyang
kita Nabi Adam AS dan istrinya Hawa diusir dari syurga oleh Allah SWT.
3.Adalah suatu yang baru sama sekali bagi dunia ini, dengan izin Allah, berisi
banyak temuan-temuan baru yang mengejutkan, sekaligus merupakan jawaban
bagi berbagai persoalan yang selama membingungkan para sarjana dan
cendikiawan dunia, sekalipun sangat sulit menundukkan hal itu dalam penelitian
ilmiah. Akan tetapi semuanya itu adalah kebenaran semata, dan kebenaran itu
pulalah yang ingin penulis sodorkan kepada dunia Islam khususnya dan dunia
umat manusia secara keseluruhan, lebih khususnya lagi kepada para peneliti
yang ingin menemukan jawaban bagi persoalan-persoalan yang
membingungkan itu. Dengan itu penulis berharap semoga mereka terbebas dari
kebingungan dan tidak lagi menghabiskan jutaan dollar. Sekedar untuk
melakukan pemotretan melalui satelit dan menghancurkan tempat-tempat yang
penuh misteri.
Hendaknya tidak ada seorang pun diantara pembaca yang beranggapan bahwa
penulis menyodorkan hadiah ilmiah ini dengan mudah. Sebab penulispun telah
menghabiskan dana yang cukup besar, semaksimal yang dapat disediakan
untuk menghadirkan Jin Muslim yang selalu menjauhkan diri dari saya selama
masa persembunyiannya.
Penulispun harus memeras keringat dan otak dalam berbagai diskusi saya
dengannya, karena dia tidak bersedia memenuhi undangan saya. Dia betul-betul
takut akan usaha pembunuhan terhadap dirinya yang dilakukan oleh Iblis dan
pengikut-pengikutnya.
Karenanya, terkadang dia berpura-pura tertidur, sebagai siasat menghindarkan
diri dari kepungan musuh-musuhnnya.
Akhirnya, keyakinan dan kepercayaan saya kepada Allah jugalah yang bisa
meyakinkan dirinya untuk menemui saya. Saya juga harus mengajarkan
kepadanya akidah, seraya menegaskan bahwa barangsiapa takut kepada Allah,
maka Allah akan menjadikan segala sesuatu takut padanya. Sedangkan orang
yang tidak takut kepada Allah, maka Allahpun akan menjadikan dirinya takut
kepada segala sesuatu.
Saya yakinkan pula kepadanya bahwa tipu muslihat setan tidak ada artinya
dalam nisbatnya dengan seorang muslim yang beriman kepada Allah, baik dia
Jin maupun manusia.
Lantas, secara tiba-tiba terjadilah dialog berikut ini:
(huruf ‘J’ adalah Jin. Sedangkan ‘P’ adalah untuk Penulis)
P: “Pernahkah engkau melihat Iblis?” Tanya saya
J: “Pernah, sekali ketika saya masih kecil, dan beberapa kali ketika saya
sudah remaja dan sebelum saya memeluk agama Islam.”
4
P: “Untuk apa engkau menghadap Iblis, padahal saat itu engkau masih
kecil?”
J: “Aku tidak pergi menemuinya atas kemauanku sendiri. Tetapi
ayahkulah yang mengajakku menemuinya, agar dia (Iblis) memberikan
berkahnya kepadaku.”
P: “Semoga Allah mengutuknya, dan segala puji bagi Allah yang telah
menganugerahi engaku dengan masuk Islam.”
J: “Alhamdulillah, alhamdulillah, aku telah masuk Islam…
P: “ Katakan padaku bagaimana bentuknya”
J: “Bentuknya ya, seperti jin yang telah aku katakan kepadamu. Akan
tetapi Allah memberikan kutukan kepadanya dan kepada keturunanya
dengan rupa yang buruk, sekalipun dia bias menjelma dalam bentuk apa
saja. Dia memiliki ekor sangat pendek, sekitar 4-6 cm atau lebih sedikit.
P: “Apakah ekornya tersebut secara umum dimiliki oleh semua jin, atau
hanya pada Iblis dan anak cucunya saja?”
J: “Alhamdulillah, hanya iblis dan anak cucu setannya saja yang memiliki
ekor seperti itu. Sepertinya mereka itu makhluk istimewa. Sedangkan jin,
sama sekali tidak punya ekor seperti yang kalian bayangkan. Ekor setan
tidaklah sepanjang ekor kucing atau binatang lainnya, sebagaimana yang
selama ini digambarkan oleh manusia.”
P: “Seberapa tingginya? Apakah dia betul-betul tinggi-besar,
sebagaimana yang dibayangkan sementara orang selama ini, ataukah
biasa-biasa saja?”
J: “Dibandingkan dengan manusia, tingginya sekitar satu lengan, Ya,
sekitar 140 hingga 160 cm. Akan tetapi dia bisa menjelmakan dirinya
dalam bentuk yang lebih tinggi dan besar, sampai sepuluh meter…”
P: “Apakah dia mempunyai rumah atau istana?”
J: “Istana yang sangat besar sekali, dengan jutaan pelayan, jutaan
pengawal, dan jutaan setan, disamping istana-istana lain di banyak
tempat. Demikian pula halnya dengan para penguasa yang ditempatkan
diberbagai pusat pemerintahannya yang sangat luas itu.”
P: “Dia juga punya singgasana bukan?”
J: “Ya, ya,” Jawabnya agak terkejut.
P: “Singgasananya diatas air, tepatnya dilautan, betul kah?”
(Lagi-lagi jin muslim sahabat saya itu terheran-heran, bahkan tampak mulai
ketakutan). Karena itu saya melanjutkan perkataan saya:
P: “Engkau adalah jin muslim, wahai saudaraku, dan seorang muslim
hanya takut kepada Allah. Terhadap seorang muslim, setan tidak
5
menemukan jalan untuk mengganggunya, selama dia taat kepada Allah.
Saya pikir kaupun demikian.”
J: “Ya, memang benar demikian, alhamdulillah, saya telah berhasil
menghafal Al-qur’an dalam empat bulan.
P: “kalau begitu, mengapa mesti takut kepada Iblis dan pasukannya?
Dengan perlindungan Allah, engkau jauh lebih kuat ketimbang mereka…”
J: “Ya, ya, Memang benar. Semoga Allah membalas kebaikanmu karena
telah mengajariku yang seperti ini. Sekarang saya semakin mantap dan
yakin…”
P: “Suatu hari, aku pernah membaca riwayat tentang para pengikut
Dzulqarnain, yang saya duga adalah Macedonia dan bukan yang
disebutkan dalam Al-qur’an bahwa sekali waktu, dalam perjalanan
mereka, mereka sampai disuatu tempat yang banyak airnya, dan
tampaklah suatu pulau di kejauhan. Mereka melihat suatu umat yang
berkepala anjing, taringnya keluar dari mulut mereka, persis nyala api.
Para pengikut Dzulqarnain segera keluar dan menyerang mereka. Di
kejauhan, mereka melihat sinar yang sangat terang, dan ternyata itu
adalah sebuah istana yang terbuat dari Kristal. Dzulqarnain bermaksud
menaklukkan mereka dan masuk kedalam istana. Akan tetapi Bahram,
Sang Filosof, melarangnya dan memberitahu bahwa siapa yang masuk ke
istana itu pasti akan tertidur didalamnya dan tidak akan pernah dapat
keluar lagi, dan ditawan oleh orang-orang yang ada di dalam istana itu.
Beberapa orang pernah masuk ke istana yang isinya tidak diketahui
siapapun. Merekapun lalu tertidur, tanpa pernah bangun lagi. Bukankah
itu istana Iblis?”
J: “barangkali, ya,” jawabnya, “tetapi barangkali pula bukan.”
P: “Maksudnya bagaimana?”
J: “Iblis mempunyai banyak istana, dia pindah dari satu istana ke istana
yang lain untuk mengatur kerajaanya yang sangat besar. Anak
perempuannya yang paling besar juga mempunyai istana dan pengawal.
Sedangkan anak-anaknya yang laki-laki memiliki istana yang sangat
besar, seperti yang dimiliki oleh para pejabat pemerintahannya. Dari
sanalah mereka mengendalikan seluruh aktivitas penyesatan mereka
terhadap umat manusia, dalam tujuan merealisasikan cita-cita Iblis yang
mereka anggap sebagai Tuhan mereka.”
| Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing (Arrahman: 20-21) 6 P: “Bagus sobat, Apakah yang kamu maksud adalah tempat pertemuan sungai dengan lautan, ataukah lautan dengan lautan?” Dia terdiam, kemudian menjawab: J: “Maksudku, ya, seperti yang kau katakan itu.1” P: “Tepatnya dimana?” desak saya Dia terdiam dan berusaha menghindar. Sekali lagi saya mengajarkan kepadanya keyakinan kepada Allah, sesudah itu saya melancarkan tembakantembakan saya yang saya dasarkan atas berbagai penelitian saya. Sebagian diantaranya akan saya kemukakan disini, dan sebagian lainnya akan saya tuturkan kemudian. P: “Apakah markas besar iblis itu terletak di Segitiga Bermuda (Bermuda Triangle)? Sementara itu pada tanggal 28 Desember 1948, sebuah pesawat jenis DC-3 dengan 35 penumpang terbang dari Purtorico, dan meninformasikan bahwa ia sedang berada pada jarak 80 km dari selatan Miami, dan Matanya tiba-tiba terlihat sayu, lalu dia berpura-pura tidur. Dia tampak dalam kegelisahan yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya mendesaknya dengan berkata: P: “Bukankah pasukan iblis dan penjelmaannya dalam bentuk manusia, serta tokoh-tokohnya, baik dari kalangan manusia dan jin, adalah pihak yang bertanggung jawab terhadap hilangnya pesawat-pesawat dan kapalkapal laut yang memasuki wilayah Segitiga Bermuda,2 khususnya ketika 1 Dua ayat yang disebutkan oleh Jin Muslim itu (Arrahman 18-20) menegaskan bahwa yang dimaksud adalah barzakh yang memisahkan dua laut yang bertemu. Dalil untuk itu adalah firman Allah SWT yang dikemukakan langsung sesudah kedua ayat tersebut, yakni Dari keduanya keluar mutiara dan marjan (Arrahman :22) Kita tahu bahwa Mutiara dan Marjan hanya keluar dari laut, dan bukan sungai. 2 Puluhan pesawat dan kapal laut dinyatakan hilang di Segitiga Bermuda tanpa diketahui rimbanya sepanjang beberapa tahun. Sebagian besar pesawatyang hilang adalah pesawat-pesawat kecil jenis tertentu. (beberapa tahun lalu pesulap dunia David Copperfield telah berhasil menampakkan satu kapal yang hilang di kawasan tersebut, namun setelah itu dilenyapkan kembali) Kendati pesawat-pesawat itu hilang dalam suatu kecelakaan, tetapi tidak hilang jejak. | |